Tampilkan postingan dengan label BAHASAN : SIRAH NABI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASAN : SIRAH NABI. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Februari 2020
Kedatangan Utusan Thayyi’
BAHASAN : SIRAH NABI
KEDATANGAN UTUSAN THAYYI’
Oleh Ustadz Abu Firas Luthfi bin Muhammad Yasin
Pembahasan ini adalah lanjutan pembahasan kedatangan delegasi dari penjuru Arab.
ASAL USUL THAYYI’
Thayyi’ adalah Thayyi’ bin Udad bin Zaid bin Yasyjub bin Arib bin Zaid bin Kahlan bin Saba’[1]. Dikatakan nama aslinya Jalhamah kemudian disebut Thayyi’ karena ia orang pertama yang membangun sumur dengan batu. Dikatakan, ia yang pertama kali membangun tempat minum[2].
KEUTAMAAN KABILAH THAYYI’
Terdapat beberapa dalil tentang keutamaan mereka
Riwayat Pertama
عَنْ عَدِي بْنِ حَاتِم قَالَ: أَتَيْنَا عُمَرَ فِيْ وَفْدٍ، فَجَعَلَ يَدْعُو رَجُلًا رَجُلاً، وَ يُسَمِّيْهِمْ، فَقُلْتُ: أَمَا تَعْرِفُنِي ياَ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْن؟ قَالَ: بَلَى، أَسْلَمْتَ إِذَا كَفَرُوا، وَ أَقْبَلْتَ إِذَا أَدْبَرُوا، وَوَفَيْتَ إِذَا غَدَرُوا، وَ عَرَفْتَ إِذَا أَنْكَرُوا
Dari Adi bin Hatim berkata: Kami mendatangi Umar dalam rombongan Thayyi’ dan menyebut nama mereka satu persatu. Aku mengatakan: apakah engkau tidak mengenaliku wahai Amirul Mukminin? Umar menjawab: Tentu. Engkau tetap memeluk Islam ketika orang-orang murtad. Engkau datang ketika orang-orang menolak. Engkau penuhi janji ketika orang-orang memungkirinya. Engkau berbuat baik ketika orang-orang berlaku munkar[3].
Kedatangan Utusan Bani Tamim
BAHASAN : SIRAH NABI,
KEDATANGAN UTUSAN BANI TAMIM
Oleh Ustadz Abu Firas Luthfi bin Muhammad Yasin
Pembahasan ini adalah lanjutan pembahasan kedatangan delegasi dari penjuru Arab.
ASAL USUL BANI TAMIM
Bani Tamim adalah Tamim bin Murr bin Udd bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar[1].
KEUTAMAAN BANI TAMIM
Terdapat beberapa dalil tentang keutamaan mereka, yang bisa disebutkan diantaranya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: مَا زِلْتُ أُحِبُّ بَنِي تَمِيْم مُنْذُ ثَلَاثٍ سَمِعْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ فِيْهِمْ: سَمِعْتُ يَقُوْلُ فِيْهِمْ: (هُمْ أَشَدُّ أُمَتِي عَلَى الدَّجَّالِ) وَ جَاءَتْ صَدَقَاتُهُمْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ( هَذِهِ صَدَقَةُ قَوْمِناَ) وَ كَانَتْ سَبِيَّةٌ مِنْهُمْ عِنْدَ عَائِشَةَ فَقَالَ ( أَعْتِقِيْهَا لِأَنَّهاَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu ia berkata: Aku tetap mencintai Bani Tamim sejak aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga keutamaan mereka. “Mereka yang paling sengit dalam memerangi dajjal dari umatku”. Ketika datang zakat dari Bani Tamim Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan “Ini zakat kaum kami[2]”. Salah satu tawanan dari Bani Tamim ada pada Aisyah, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Lepaskan dia, sesungguhnya ia termasuk keturunan Ismail”[3].
Senin, 27 Januari 2020
Kedatangan Utusan Bani Daus
KEDATANGAN UTUSAN BANI DAUS
Oleh Ustadz Abu Firas Luthfi bin Muhammad Yasin
Pembahasan ini adalah rincian pembahasan sebelumnya tentang kedatangan delegasi dari penjuru Arab.
ASAL USUL BANI DAUS
Daus dinisbahkan kepada Daus bin Udtsan (عُدثان) bin Abdullah bin Zahran. Nasabnya bersambung ke Azad[1]. Qalqasyandi menyebut nasab lengkapnya dengan Daus bin Udtsan bin Abdullah bin Zahran bin Ka’b bin Harits bin Ka’b bin Abdullah bin Khalid bin Nashr.[2]. Bani ini adalah kaum Abu Hurairah[3]. Tidak dijelaskan tempat asal kaum ini, hanya disebutkan bahwa mereka berasal dari Yaman[4].
Minggu, 26 Januari 2020
Delegasi Bani Abdil Qais
BAHASAN : SIRAH NABI
DELEGASI BANI ABDIL QAIS
Setelah penaklukan kota Makkah, delegasi dari penjuru Jazirah Arab berdatangan untuk bertemu dengan Nabi dan masuk Islam, diantaranya adalah delegasi (utusan) Bani Abdil Qais.
ASAL USUL BANI ABDUL QAIS
Abdul Qais berasal dari wilayah sebelah timur Jazirah Arab yang pada masa itu disebut dengan Bahrain.[1] Abdul Qais dinasabkan kepada Abdul Qais bin Afsha bin Du’mi bin Jadilah bin As’ad bin Rabi’ah bin Nizâr. [2]
KEISLAMAN DAN KEUTAMAAN BANI ABDUL QAIS
Salah satu dari keutamaan mereka yaitu mereka termasuk suku yang lebih dulu masuk Islam dari luar Madinah. Diyakini keislaman mereka ketika kedatangan pertama menemui Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun ke-5 H. Karena itu mereka mengatakan :
يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَأْتِيكَ إِلَّا فِي شَهْرِ الْحَرَامِ ، وَبَيْنَنَا وَبَيْنَكَ كُفَّار مُضَرَ
Wahai Rasûlullâh, kami tidak bisa datang padamu kecuali pada bulan haram [3], antara Anda dan kami terdapat orang-orang kafir dari Mudhar[4]
Jumat, 24 Januari 2020
Al-Wufûd (Datangnya Delegasi dari Penjuru Arab)
BAHASAN : SIRAH NABI
AL-WUFUD (DATANGNYA DELEGASI DARI PENJURU ARAB)[1]
Setelah penaklukan kota Makkah terjadilah perubahan yang besar pada kondisi masyarakat Arab, baik di Makkah atau di luarnya, sehingga para kabilah mulai mengirim rombongan delegasi (utusan) kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan keislaman mereka. Rombongan utusan inilah yang dikenal dengan al-Wufûd.
Al-Wufûd sendiri dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak/plural dari kalimat wafd yang berarti utusan, atau bentuk jamak dari subyeknya yaitu wâfid[2].
Utusan yang dimaksud adalah utusan para kabilah yang berduyun-duyun datang dari penjuru Arab menemui Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan motifasi yang berbeda; tidak sedikit diantara mereka yang kemudian masuk Islam.
Kamis, 23 Januari 2020
Pelajaran Dari Kisah Tabuk : Larangan Masuk Pada Tempat Tinggal Kaum Yang Diadzab
BAHASAN : SIRAH NABI
PELAJARAN DARI KISAH TABUK : LARANGAN MASUK PADA TEMPAT TINGGAL KAUM YANG DIADZAB
Imam Ahmad meriwayatkan dari jalan Abdulah bin Umar dari Nafi’[1]:
نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ عَامَ تَبُوكَ الْحِجْرَ عِنْدَ بُيُوتِ ثَمُودَ ، فَاسْتَقَى النَّاسُ مِنَ الْآبَارِ الَّتِي كَانَتْ تَشْرَبُ مِنْهَا ثَمُودُ ، فَعَجَنُوا وَنَصَبُوا الْقُدُورَ بِاللَّحْمِ ، فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَهْرَقُوا الْقُدُورَ ، وَعَلَفُوا الْعَجِينَ الْإِبِلَ ، ثُمَّ ارْتَحَلَ بِهِمْ حَتَّى نَزَلَ بِهِمْ عَلَى الْبِئْرِ الَّتِي كَانَتْ تَشْرَبُ مِنْهَا النَّاقَةُ ، وَنَهَاهُمْ أَنْ يَدْخُلُوا عَلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ عُذِّبُوا فَقَالَ : إِنِّي أَخْشَى أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba pada tahun terjadinya perang Tabuk di Hijr; tempat tinggal Tsamud (kaum Nabi Shalih Alaihissallam), kaum Muslim mengambil air minum dari sumur-sumur air minum kaum Tsamud. Mereka membuat adonan makanan dan meletakkan daging di panci. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan mereka untuk menumpahkan (isi) panci dan memberikan adonan makanan tersebut untuk makanan unta. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama mereka pergi dari tempat tersebut hingga tiba di sumur tempat minum unta (unta Nabi Shalih Alaihissallam). Rasûlullâh melarang masuk (tempat) kaum yang diadzab dengan mengatakan, “Aku takut kalian ditimpa musibah yang pernah menimpa mereka, maka janganlah kalian masuk!
Selasa, 07 Februari 2017
Kisah Taubat Tiga Orang Sahabat Yang Tidak Ikut Dalam Perang Tabuk
BAHASAN : SIRAH NABI
KISAH TAUBAT TIGA ORANG SAHABAT YANG TIDAK IKUT DALAM PERANG TABUK
Setelah menempuh perjalanan panjang dan lama dari Tabûk, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukan kaum Muslimin tiba di Madinah. Setibanya di Madinah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki masjid lalu shalat dua rakaat. Demikianlah kebiasaan beliau setelah melakukan perjalanan jauh.
Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dan orang-orang yang tidak ikut dalam perang Tabûk mulai berdatangan menemui Beliau sambil menjelaskan alasan mereka tidak ikut dalam perang Tabûk. Orang-orang munafik yang tidak ikut dalam peperangan tersebut menyebutkan berbagai alasan dusta, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menerima alasan-alasan yang mereka ucapkan, membai’at mereka kembali dan memohonkan ampunan buat mereka, sedangkan urusan hati mereka diserahkan kepada Allâh Azza wa Jalla.
Beda Sikap Kaum Mukminin Dan Kaum Munafik Pada Perang Tabuk
BAHASAN : SIRAH NABI
BEDA SIKAP KAUM MUKMININ DAN KAUM MUNAFIK PADA PERANG TABUK
Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan perintah berperang dan berinfaq untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk, maka tampak dua sikap yang berbeda dari dua golongan yang berbeda pula, dari orang-orang beriman yang taat kepada Allâh dan Rasul-Nya dan satu lagi dari yang munafiq yang senantiasa menyelisihi Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.
Perang Tabuk Atau Al-'Usrah
BAHASAN : SIRAH NABI
PERANG TABUK ATAU AL-‘USRAH [1]
MENGAPA DINAMAKAN PERANG TABUK DAN AL-‘USRAH?
Imam Muslim[2] meriwayatkan perjalanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya yang sedang menuju Tabûk. Dalam hadits itu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَأْتُوْنَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوْكَ وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوْهَا حَتَّى يُضَحَّى النَّهَارُ فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلاَ يَمُسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِيَ
Insya Allâh besok kalian akan sampai di mata air Tabûk, dan sungguh kalian tidak akan sampai ketempat itu kecuali setelah waktu agak siang dan barangsiapa sampai duluan maka janganlah dia menyentuh airnya sedikitpun sampai aku datang (ke tempat itu)
Pembagian Ghanimah Perang Hunain
PEMBAGIAN GHANIMAH PERANG HUNAIN[1]
Setelah memutuskan untuk mengakhiri pengepungan benteng Thaif, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke Ji’ranah tempat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyimpan ghanimah (harta rampasan) perang Hunain sebelum berangkat mengepung Thaif. Setibanya di Ji’ranah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak langsung membagi harta rampasan perang tersebut kepada para Shahabat yang ikut dalam perang Hunain kecuali perak yang jumlahnya tidak tidak terlalu banyak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja menunda pembagian ghanimah ini beberapa hari, dengan harapan akan ada utusan dari kabilah Hawazin yang datang untuk menyatakan taubat dan menerima Islam. Namun ternyata tidak ada yang datang. Akhirnya ghanîmah dibagikan kepada kaum muhajirin dan para tawanan yang dibebaskan, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian sedikitpun.
Perang Hunain (Bagian-2)
BAHASAN : SIRAH NABI
PERANG HUNAIN
Dalam bagian sebelumnya, telah dikisahkan tatkala perang memanas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam tanah lalu melemparkannya ke wajah kaum musyrikin sembari berseru: شَاهَتِ الوُجُوْهُ (wajah-wajah yang buruk), maka tidak tersisa seorang pun dari mereka saat itu melainkan kedua matanya kemasukan tanah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :
انْهَزِمُوْا وَرَبِّ مُحَمَّدٍ
(kalahlah kalian, demi Rabb-nya Muhammad), maka mereka pun lari mulai berlarian hingga terpukul mundur.[1]
Perang Hunain (Bagian-1)
BAHASAN : SIRAH NABI
PERANG HUNAIN
Setelah kota Mekah takluk di tangan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata masih ada sejumlah kabilah Arab yang belum menyerah, seperti Bani Tsaqîf, Hawazin, dan sejumlah kabilah lainnya. Semua kabilah tadi akhirnya bersatu untuk melawan kaum Muslimin, sembari mengerahkan anak-anak, kaum wanita, dan harta benda mereka.
Begitu mendengar gerakan mereka, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengutus Abdullah bin Abi Hadrad al- Aslami untuk klarifikasi berita tersebut.[1] Setelah nyata kebenaran berita dan maksud mereka maka Rasûlullâh bersiap-siap untuk perang.
Fathu Makkah (Tahun Ke-8 Bagian 2)
FATHU MAKKAH (TAHUN KE-8H)
Oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc, MA
KEBERANGKATAN PASUKAN DAN PERISTIWA YANG MENGIRINGINYA
Pada tanggal 10 Ramadhân tahun 8 H, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Abu Ruhm Radhiyallahu anhu sebagai wakil beliau di Madinah, lalu beliau berangkat bersama 10 ribu pasukan menuju Mekkah. Selama perjalanan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin tetap berpuasa hingga sampai ke tempat bernama Kadîd, yang terletak di antara ‘Usfan dan Qudaid (sekitar 70-150 Km dari Mekkah). Di tempat ini, Rasûlullâh dan kaum Muslimin menghentikan puasanya.
Fathu Makkah (Tahun Ke-8 Bagian 1)
FATHU MAKKAH (TAHUN KE-8H)
Oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc, MA
SEBAB-SEBAB YANG MEMICUNYA
Musyrikin Quraisy melakukan kesalahan besar ketika membantu sekutunya -Bani Bakr- untuk melawan Khuzâ’ah –sekutu kaum Muslimin-, yaitu dengan memberi senjata, kuda dan pasukan. Bani Bakr dan sekutu mereka pun menyerang Kabilah Khuzâ’ah di sebuah daerah bernama al-Watîr. Mereka membunuh lebih dari dua puluh orang anggota Khuzâ’ah. Suku Khuzâ’ah yang belum siap berperang tadi lantas berlindung ke tanah suci (Mekkah) untuk menyelamatkan diri dari kejaran Bani Bakr dan sekutunya (Quraisy). Sesampainya di Mekkah, Khuzâ’ah berkata kepada panglima musuhnya, “Hai Naufal, kami sekarang berada di kawasan suci tuhanmu!” Namun Naufal justru menukas, “Tidak ada tuhan hari ini… hai Bani Bakr, lampiaskan dendam kalian!” teriaknya.[1]
Ekspedisi Militer Dzatus-Salasil
BAHASAN : SIRAH NABI,
EKSPEDISI MILITER DZATUS-SALASIL[1]
Oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc, MA
Hanya selang beberapa hari sepulang dari Mu’tah, Nabi kembali memberangkatkan ekspedisi militer kaum Muslimin yang dipimpin oleh ‘Amru ibnul-Ash ke Dzâtus-Salâsil. Tujuan ekspedisi ini untuk memberi pelajaran kepada Suku Qudha’ah yang terprovokasi, melihat kelemahan kaum Muslimin di Mu’tah. Suku Qudha’ah konon mengumpulkan pasukan untuk menyerbu kota Madinah, hingga mereka dihadang oleh ‘Amru dengan pasukan gabungan dari Muhajirin dan Anshar sebanyak 300 orang.
Perang Mut'ah
BAHASAN : SIRAH NABI
PERANG MU’TAH
Oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan Lc, M.A.
Mu’tah adalah nama sebuah desa di daerah Balqa’ di Syam. Peperangan yang terjadi pada bulan Jumadal Ula tahun 8 H ini disebut pula dengan Ghazwatu Jaisyil Umara’, artinya perang pasukan para pemimpin. Disebut demikian, karena banyaknya jumlah pasukan kaum Muslimin yang kala itu mencapai 3000 personel, dan sengitnya pertempuran melawan pihak kafir.
Menurut Ibnu Ishâq rahimahullah, dalam perang ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan yang dipimpin Zaid bin Hâritsah Radhiyallahu anhu seraya berpesan, “Bila Zaid terbunuh, maka Ja’far bin Abi Thâlib yang menggantikan. Dan bila Ja’far terbunuh, maka Abdullâh bin Rawâhah yang menggantikan”.[1]
Minggu, 03 Juli 2016
Beberapa Peristiwa Pasca Perang Khaibar
BEBERAPA PERISTIWA PASCA PERANG KHAIBAR
KEDATANGAN MUHAJIRIN HABASYAH
Salah satu peristiwa penting yang mengiringi takluknya Khaibar adalah kedatangan Ja’far bin Abi Thalib beserta rombongan dari Habasyah (Ethiopia). al-Hâkim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, bahwa Ja’far bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu bersua dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari penaklukan Khaibar. Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecup kening Ja’far Radhiyallahu anhu dan memeluknya, seraya bersabda,
وَاللهِ مَا أَدْرِي بِأَيِّهِمَا أَنَا أَفْرَحُ: بِفَتْحِ خَيْبَرَ أَمْ بِقُدُومِ جَعْفَرٍ ؟
Demi Allâh, aku tidak tahu manakah yang membahagiakanku: takluknya Khaibar atau kedatangan Ja’far?[1]
وَاللهِ مَا أَدْرِي بِأَيِّهِمَا أَنَا أَفْرَحُ: بِفَتْحِ خَيْبَرَ أَمْ بِقُدُومِ جَعْفَرٍ ؟
Demi Allâh, aku tidak tahu manakah yang membahagiakanku: takluknya Khaibar atau kedatangan Ja’far?[1]
Surat Dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Kepada Para Penguasa Dan Raja Kafir
AHAD, 28 Ramadhan 1437 H / 03 Juli 2016 M / 06:25 WIB
BAHASAN : SIRAH NABI
SURAT DAKWAH RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM KEPADA PARA PENGUASA DAN RAJA KAFIR
Shulhu Hudaibiyyah (perjanjian damai) yang terjadi antara Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin di satu pihak dengan kaum kafir Quraisy dipihak yang lain; Perjanjian yang awalnya dipungkiri oleh sebagian shahabat karena isinya dianggap merendahkan derajat kaum Muslimin itu ternyata telah memberikan peluang besar bagi kaum Muslimin untuk mendakwahkan Islam secara damai. Pada fase ini dakwah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki era baru. Geliat dakwah pada era ini tidak hanya terbatas pada wilayah Arab, tapi mulai merambah daerah lain di luar wilayah Arab. Ini merupakan realisasi dari firman Allâh Azza wa Jalla yang menunjukkan bahwa Islam itu tidak terbatas waktu dan ruang. Artinya Islam itu layak untuk semua manusia dimanapun dan kapanpun berada. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan [Saba’/34:28]
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Katakanlah, “Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allâh kepadamu semua [al-A’râf/7:158]
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [al-Anbiya/21:107]
Perang Khaibar
BAHASAN : SIRAH NABI
PERANG KHAIBAR[1]
Peperangan dalam menaklukkan Khaibar bukanlah peperangan tanpa menelan korban. Yang terbunuh dari kalangan Yahudi berjumlah 93 sementara kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan. Diantara wanita yang menjadi tawanan saat itu adalah Shafiyah binti Huyay bin Akhthab. Wanita ini kemudian diminta oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari shahabatnya yang mendapatkannya yaitu Dihyah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membebaskannya dan menikahinya[2].
Peperangan Khaibar
PEPERANGAN KHAIBAR
Khaibar adalah suatu daerah yang subur yang dikelilingi oleh benteng-benteng kaum Yahudi. Benteng tersebut merupakan benteng terakhir di Jazirah Arabiah. Awalnya, orang-orang yahudi Khaibar tidak memperlihatkan permusuhan terhadap kaum Muslimin, sampai pemuka Bani Nadhir bergabung dengan mereka setelah terusir dari Madinah. Setelah itu, babak baru hubungan antara mereka dengan kaum Muslimin dimulai. Diantara pemuka Bani Nadhir yang menonjol yang bergabung dengan yahudi di Khaibar adalah Sallâm bin Abi al-Huqaiq, Kinânah bin Abi al-Huqaiq dan Huyai bin Akhtâb.
Langganan:
Postingan (Atom)





