Tampilkan postingan dengan label Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

Fathu Makkah (Tahun Ke-8 Bagian 2)

Fathu Makkah (Tahun Ke-8, Bagian 2)

FATHU MAKKAH (TAHUN KE-8H)

Oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc, MA

KEBERANGKATAN PASUKAN DAN PERISTIWA YANG MENGIRINGINYA

Pada tanggal 10 Ramadhân tahun 8 H, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Abu Ruhm Radhiyallahu anhu sebagai wakil beliau di Madinah, lalu beliau berangkat bersama 10 ribu pasukan menuju Mekkah. Selama perjalanan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin tetap berpuasa hingga sampai ke tempat bernama Kadîd, yang terletak di antara ‘Usfan dan Qudaid (sekitar 70-150 Km dari Mekkah). Di tempat ini, Rasûlullâh dan kaum Muslimin menghentikan puasanya.

Fathu Makkah (Tahun Ke-8 Bagian 1)

Fathu Makkah (Tahun Ke-8 Bagian 1)


FATHU MAKKAH (TAHUN KE-8H)

Oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc, MA

SEBAB-SEBAB YANG MEMICUNYA

Musyrikin Quraisy melakukan kesalahan besar ketika membantu sekutunya -Bani Bakr- untuk melawan Khuzâ’ah –sekutu kaum Muslimin-, yaitu dengan memberi senjata, kuda dan pasukan. Bani Bakr dan sekutu mereka pun menyerang Kabilah Khuzâ’ah di sebuah daerah bernama al-Watîr. Mereka membunuh lebih dari dua puluh orang anggota Khuzâ’ah. Suku Khuzâ’ah yang belum siap berperang tadi lantas berlindung ke tanah suci (Mekkah) untuk menyelamatkan diri dari kejaran Bani Bakr dan sekutunya (Quraisy). Sesampainya di Mekkah, Khuzâ’ah berkata kepada panglima musuhnya, “Hai Naufal, kami sekarang berada di kawasan suci tuhanmu!” Namun Naufal justru menukas, “Tidak ada tuhan hari ini… hai Bani Bakr, lampiaskan dendam kalian!” teriaknya.[1]

Ekspedisi Militer Dzatus-Salasil

Ekspedisi Militer Dzatus-Salasil

BAHASAN : SIRAH NABI,

EKSPEDISI MILITER DZATUS-SALASIL[1]


Oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc, MA

Hanya selang beberapa hari sepulang dari Mu’tah, Nabi kembali memberangkatkan ekspedisi militer kaum Muslimin yang dipimpin oleh ‘Amru ibnul-Ash ke Dzâtus-Salâsil. Tujuan ekspedisi ini untuk memberi pelajaran kepada Suku Qudha’ah yang terprovokasi, melihat kelemahan kaum Muslimin di Mu’tah. Suku Qudha’ah konon mengumpulkan pasukan untuk menyerbu kota Madinah, hingga mereka dihadang oleh ‘Amru dengan pasukan gabungan dari Muhajirin dan Anshar sebanyak 300 orang.

Perang Mut'ah

Perang Mut'ah

BAHASAN : SIRAH NABI

PERANG MU’TAH


Oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan Lc, M.A.

Mu’tah adalah nama sebuah desa di daerah Balqa’ di Syam. Peperangan yang terjadi pada bulan Jumadal Ula tahun 8 H ini disebut pula dengan Ghazwatu Jaisyil Umara’, artinya perang pasukan para pemimpin. Disebut demikian, karena banyaknya jumlah pasukan kaum Muslimin yang kala itu mencapai 3000 personel, dan sengitnya pertempuran melawan pihak kafir.

Menurut Ibnu Ishâq rahimahullah, dalam perang ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan yang dipimpin Zaid bin Hâritsah Radhiyallahu anhu seraya berpesan, “Bila Zaid terbunuh, maka Ja’far bin Abi Thâlib yang menggantikan. Dan bila Ja’far terbunuh, maka Abdullâh bin Rawâhah yang menggantikan”.[1]