Tampilkan postingan dengan label DIALOG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIALOG. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Desember 2017

Antara Ust. Abdul Somad, MA., Mu’tazilah, & Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf)

Antara Ust. Abdul Somad, MA., Mu’tazilah, & Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf)

MUKADDIMAH

Keyakinan bahwa Allah itu Maha Tinggi dan berada di atas, sejatinya merupakan keyakinan yang telah terpatri dalam fitrah kaum muslimin secara umum. Ungkapan-ungkapan mereka yang biasa kita dengar semisal;

“Kita serahkan pada Yang di Atas”..., “Kalau Yang di Atas telah berkehendak”...., dan lain-lain yang semisal,

adalah bukti bahwa sebenarnya hati kita tidak bisa memungkiri keberadaan Allah di atas segenap makhluk. Di samping juga mereka—ketika berdoa dan berharap kepada Allah—kedua tangan serta kepala mereka menengadah ke atas, tidak ke samping, dan tidak ke bawah.

Boleh Sholat Menghadap Kuburan?

Boleh Sholat Menghadap Kuburan?

(Kritikan terhadap al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- tentang pemahaman beliau terhadap hadits “Janganlah sholat mengarah ke kuburan”)

Tentu saling mengingatkan demi kebaikan adalah kebiasaan para ulama, nasihat dan masukan jika tujuannya baik dengan uslub yang baik tentu lebih bermanfaat. Sebelumnya saya pernah mengkritik beliau di link berikut ("Imam Syafi’i menyatakan pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat?")

Senin, 25 Desember 2017

Al-Qur'an Yang Kita Baca Adalah Makhluk Menurut Asya’iroh (Bagian Kedua)

Al-Qur'an Yang Kita Baca Adalah Makhluk Menurut Asya’iroh (Bagian Kedua)

(Bagian kedua : Bantahan terhadap syubhat-syubhat Asyairoh)

Pernyataan Asya’iroh bahwasanya Allah tidak berbicara dengan suara bukanlah produk yang baru, akan tetapi pendapat seperti ini sudah ada di zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal (yang wafat tahun 241 H), yaitu jauh sebelum lahirnya madzhab Asyairoh

Abdullah (putranya imam Ahmad) berkata:

سَأَلْتُ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ قَوْمٍ، يَقُولُونَ: لَمَّا كَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُوسَى لَمْ يَتَكَلَّمْ بِصَوْتٍ فَقَالَ أَبِي: «بَلَى إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ تَكَلَّمَ بِصَوْتٍ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ نَرْوِيهَا كَمَا جَاءَتْ»

“Aku bertanya kepada ayahku tentang suatu kaum yang mereka berkata, “Tatkala Allah berbicara dengan Musa, maka Allah tidaklah berbicara dengan suara?”. Maka ayahku (yaitu Al-Imam Ahmad bin Hanbal) berkata, “Justru sesungguhnya Rabbmu azza wa jalla telah berfirman dengan suara. Inilah hadits-haditsnya kami riwayatkan sebagaimana datangnya’ (As-Sunnah 1/280 No. 533, sebagaimana juga dinukil oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/460)

Al-Qur'an Yang Kita Baca Adalah Makhluk Menurut Asya’iroh (Bagian Pertama)

Al-Qur'an Yang Kita Baca Adalah Makhluk Menurut Asya’iroh (Bagian Pertama)

Aqidah ahlus sunnah wal jamaah tentang al-Qur’an sangatlah jelas, bahwasanya Al-Qur’an adalah firman Allah, lafal-lafalnya dari Allah, dan merupakan kalamullah. Allah berbicara dengan suara yang bisa didengar, sebagaimana didengar oleh para malaikat dan juga didengar oleh para Nabi. Diantaranya didengar oleh Nabi Musa sehingga Nabi Musa digelari dengan Kaliimullah (yang diajak berbicara dengan Allah). Jadi Allah berbicara dengan siapa yang Allah kehendaki, dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan dengan topik apa saja yang Allah kehendaki serta kapan saja Allah kehendaki. Akan tetapi tentunya firman Allah tidak seperti kalam makhluk, suara Allah tidak seperti suara makhluk, sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk.

Imam Syafi’i Menyatakan Pahala Bacaan al-Qur’an Sampai Kepada Mayat?

Imam Syafi’i Menyatakan Pahala Bacaan al-Qur’an Sampai Kepada Mayat?

(Kritikan terhadap ceramah seorang ustadz -semoga Allah menjaganya dalam kebaikan-)

Sudah merupakan hal biasa dalam dunia ‘ilmu saling memberi masukan dan kritikan, tentunya kritikan yang membangun dan disertai dengan dalil. Karena tidak ada seorangpun yang makshum kecuali Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka setiap orang siap untuk mengkritik dan siap untuk dikritik. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua para dai kepada jalan yang benar.

Sang ustadz berkata dalam ceramahnya :

((...Imam Syafi’i mengatakan amalan membaca quran tidak sampai pahalanya kepada si mayit

Minggu, 09 April 2017

Sebuah Masukan (4)


5. Pakar Hadits (Takhrij)
Al-Ustadz Adi Hidayat hafidhahullahdalam sebuah rekaman video pengajian yang berjudul Penjelasan Mengenai Doa Makan (Allahummabariklana) berkata (menit 02:38):
“Ada yang berkata begini, saya tanya dulu. Kalau saya baca Allaahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa, shahih atau dla’iif ? (Hadirin : ‘dla’iif). Ooo, dla’iif…. (Tertawa). Dari mana tahunya ? Dari guru… Yuk kita lihat kitab aslinya. Buka dulu Muwaththa’ Imam Malik nomor hadits 2772. Nabi tidak mengatakan. Nabi tidak mengatakan : ‘bacalah bismillah’. Hanya mengatakan : ‘sammilah’. Nama Allah ada berapa ? Banyak. Diantaranya 99. Jadi sepanjang kita menyebut nama Allah, dibuat umum untuk memudahkan. Sepanjang kita menyebut nama Allah dengan bahasa apapun, dengan bismillah, dengan ya Allah, dengan Allahumma, itu sudah benar. Nabi mengajarkan hadits yang panjang di Muwaththa’ Imam Malik kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib. Bagaimana redaksinya ?. Kalau engkau mau makan : Qul, bismillaahir-rahmaanir-rahiim, Allahummaa baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaaban-naar. Hadits itu shahih. Bahkan ada yang lebih panjang lagi. Sekarang darimana munculnya pernyataan hadits itu dla’if ?. Ternyata, ada orang keliru baca kitab. Dibaca di kitab Syaikh Al-Albani pembahasan hadits nomor 6390, pembahasan itu sedang membahas hadits hubungan suami istri. Jadi ada hadits dla’if berbunyi begini : Kalau seorang istri berhubungan, seorang suami istri berhubungan, yang sebelum berhubungannya dia membaca Allahummaa baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaaban-naar, (hadirin tertawa), betul. Silakan dibuka. Maka anak yang lahir tidak akan disentuh oleh setan. Itu haditsnya. Dibahas oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hadits ini kualitasnya dla’if, karena bertentangan dengan doa shahih yang diajarkan oleh Nabi. Orang-orang mengira, yang dla’if ini hadits tentang makanan. Padahal haditsnya berbeda. Jadi hadits tentang makanan terpisah dengan hadits yang tadi. Yang satu dla’if, yang lainnya shahih. Itu yang penting saya luruskan. Itu banyak sekali. Dan banyak orang keliru”

Kebaikan dan Kejelekan Terjadi atas Takdir (Qadar) Allah


Syaikhul-Islaam Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil Ash-Shaabuuniy rahimahullah (w. 449 H) berkata:

ويشهد أهل السنة ويعتقدون : أن الخير والشر، والنفع والضر [والحلو] والمر بقضاء الله وقدره لا مرد لها ولا محيص ولا محيد عنها ، ولا يصيب المرء إلا ما كتب له ربه ، ولو جهد الخلق أن ينفعوا المرء بما لم يكتب الله له لم يقدروا عليه ، ولو جهدوا أن يضروه بما لم يقضه الله [عليه] لم يقدروا . على ما ورد به خبر عبد الله بن عباس [رضي الله عنهما] ، عن النبي ﷺ . قال الله عز وجل : وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ

“Ahlus-Sunnah bersaksi dan meyakini bahwa kebaikan dan kejelekan, manfaat dan mudlarat, serta manis dan pahitnya, terjadi dengan ketetapan dan takdir (qadar) Allah. Tidak ada yang dapat mencegahnya, menyimpangkannya, dan menjauhkannya. Seseorang tidak tertimpa sesuatu kecuali dengan ketentuan yang telah Rabbnya tuliskan untuknya. Seandainya seluruh makhluk berusaha keras untuk memberikan manfaat seseorang dengan sesuatu yang tidak Allah tetapkan untuknya, maka mereka tidak mampu melakukannya. Dan seandainya seluruh makhluk berusaha keras untuk memberikan mudlarat kepadanya dengan sesuatu yang tidak Allah tetapkan untuknya, maka mereka pun tidak mampu melakukannya. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, dari Nabi ﷺ.[1] Allah ‘azza wa jalla berfirman : “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya” (QS. Yuunus : 107)” [‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabul-Hadiits, hal. 70-71].

Sabtu, 08 April 2017

Sebuah Masukan (3)


4. Asy’ariy ?
Saat membawakan hadits nuzuul dalam video berjudul Selesai Shalat Tahajud, Apa yang Dicontohkan Rasulullah Hingga Salat Fajar?[1] (durasi 01:25:14), Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah berkata (mulai menit 57:41):

Senin, 03 April 2017

Mengakui Kesalahan Memang Berat....


Beginilah akhlâq mulia dari Ustâdz Adi Hidayat, Lc MA حفظه الله…

==--==C O P A S==--==

السلام عليكم و رحمة الله وبركاته

الحمد لله وصلاة وسلام على رسول الله

Kami ingin menyampaikan sebagai berikut:

1⃣ Mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberi support, masukan, serta aneka kebaikan yang insyâ’-Allôh bernilai mulia dan pahala. Terkhusus kalangan asatidz dalam maupun luar negeri, juga Dubes Libya untuk Indonesia.

Sabtu, 01 April 2017

Masukan Untuk AH Hafidhohullah


Oleh Ustadz Abul Jauzaa

Bagian kedua : Tafsir al-Qur’an ala Ustadz AH hafizohullah

Menafsirkan al-Qur’an tentu harus berhati-hati, berusaha merujuk kepada tafsiran para salaf -apalagi kalau mengaku bermanhaj salaf-. Terlebih lagi kalau menimbulkan penafsiran model baru dengan model tafsir majaz (kiasan) dan meninggalkan dzohir (tekstual) ayat, lalu menyalahkan tafsir yang sudah dikenal oleh salaf dan kaum muslimin.

Kamis, 30 Maret 2017

Sebuah Masukan (1)


Oleh Ustadz Abu Al-Jauzaa'

Belakangan ini kita dihebohkan oleh khabar beredarnya rekaman suara Ustadz Abdullah Taslim yang berkomentar terhadap Ustadz Adi Hidayat, hafidhahumallah. Sebuah rekaman yang asalnya dari grup WA atas sebuah pertanyaan yang diajukan kepada beliau (Ustadz Abdullah Taslim) dari anggota grup tentang Ustadz Adi. Isinya adalah nasihat kepada anggota grup dan tahdzir kepada Ustadz Adi Hidayat terkait dengan manhaj beliau. Sebenarnya, apapun kontennya tidak patut dipermasalahkan[1]. Tahdzir yang beliau katakan adalah wujud pertanggungjawaban atas pengetahuan yang dimiliki, sebagai pembina grup. Tahdzir bukan barang yang asing[2] meski substansinya sah-sah saja jika ada yang tidak sepakat. Yang menjadikan ramai – selain oknum yang menyebarkan keluar grup – adalah gorengan dan tambahan kata-kata oleh oknum tak bertanggung jawab yang bernada provokatif. Misalnya : Kembalilah kepada para asatidz yang jelas manhajnya yaitu para asatidz Rodja yang pasti benar dan di atas manhaj yang benar. Ada juga framing berita dengan judul : Takut Ditinggal Jama’ah! Ustadz Rodja’ Ini Larang Jama’ahnya Dengarkan Ceramah Ustadz Adi Hidayat!. Benar-benar dagelan…. Saya yakin, ini bukan berasal dari Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah, dan memang bukan tipikal beliau. Entah siapa….

Maybe ‘they’ realize, making a lie is the only way to win the war (?).

Minggu, 26 Maret 2017

Tahdzir ??


Apa Itu Tahdzir ??

Tahdzir itu artinya mewanti-wanti agar menjauhi seseorang. Tahdzir itu boleh jika memang orang yang ditahdzir berhak ditahdzir dan mashlahatnya lebih besar dari mudlarat tahdzir. Apabila mudlaratnya lebih besar maka tidak boleh.

Di zaman dahulu para ulama menggunakan tahdzir juga untuk membela agama. Seperti Imam Asy Syafii, Ad Darimi mentahdzir Bisyir Al Marisi. Bahkan imam Ad Darimi menulis buku: Bantahan Utsman bin Sa'id Ad Darimi terhadap Bisyir Al Marisi yang sesat.

Imam Ahmad mentahdzir Seorang ulama yang bernama Husain Al Karobisi karena ia mengatakan: lafdzi bil qur'an makhluk. Juga mentahdzir Amru bin Ubaid karena keyakinan qodariyahnya, padahal Amru bin Ubaid ini ahli ibadah yang hebat.