Minggu, 18 September 2022

Penjelasan Hai’ah Kibar Ulama Tentang Kecaman Terhadap Sikap Melampaui Batas dan Mengkafirkan Serta Dampaknya yang Berbahaya


PENJELASAN HAI’AH KIBAR ULAMA TENTANG KECAMAN TERHADAP SIKAP MELAMPAUI BATAS DAN MENGKAFIRKAN SERTA DAMPAKNYA YANG BERBAHAYA

Pertanyaan :
Pada hari-hari ini diperhatikan ada sebagian pemuda yang tergesa-gesa dalam menetapkan kafir serta terjerumusnya mereka dalam sikap berbahaya dengan segala dampaknya yang berbahaya terhadap para ulama dan kehormatannya. Mohon nasehatnya.

Nasehat Bagi Orang yang Mencela Saudaranya Seiman dan Menuduh Tanpa Bukti


NASEHAT BAGI ORANG YANG MENCELA SAUDARANYA SEIMAN DAN MENUDUH TANPA BUKTI

Pertanyaan :
Guruku, saya mencintai anda karena Allah. Harapanku anda dapat menjawab agar dapat membungkam orang-orang yang mencela ahli ilmu. Disana ada orang yang menuduh anda dengan takfir (suka mengkafirkan) dan Qutubiyah (condong ke pemikiran Sayyid Qutub) sebagaimana yang mereka istilahkan?

Khawarij Adalah Kelompok Sesat, Muncul Dari Waktu Ke Waktu


KHAWARIJ ADALAH KELOMPOK SESAT, MUNCUL DARI WAKTU KE WAKTU, DAN AKAN TERUS MUNCUL HINGGA MUNCULNYA DAJAL

Pertanyaan :
Berdasarkan panduan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan tumbuh remaja yang membaca Al-Quran tapi tak sampai melewati kerongkongan mereka, setiap kali keluar tanduknya, dia akan terpotong.” Lengkapnya, Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata, “Setiap kali keluar tanduknya, dia akan dipotong” lebih dari duapuluh kali (beliau katakan demikian), hingga keluar Dajal di daerah mereka.” Apakah mungkin dijelaskan kepada kami, siapakah khawarij yang dimaksudkan dalam hadits tersebut pada masa kita sekarang?

Hakikat Khawarij, Apakah Seorang Muslim Menjadi Khawarij Hanya Karena Dia Menyebutkan Suatu Perbuatan Sebagai Syirik?


HAKIKAT KHAWARIJ, APAKAH SEORANG MUSLIM MENJADI KHAWARIJ HANYA KARENA DIA MENYEBUTKAN SUATU PERBUATAN SEBAGAI SYIRIK?

Pertanyaan:
Ada kelompok tasawuf di tempat tinggal saya, mereka sangat jauh dari syariat Islam. Kadang mereka shalat menghadap kubur dan meminta syafaat kepada ahli kubur. Apabila disampaikan kepada mereka dalil-dalil dari Al-Quran dan Sunah atas batilnya perbuatan mereka dan bahwa hal itu merupakan kesyirikan dan bahwa hal tersebut merupakan kebiasaan bangsa Arab jahiliah, mereka segera menyebutkan hadits dalam shahih Bukhari dari Ibnu Umar radiallahu anhuma bahwa dia berkata tentang orang-orang khawarij bahwa mereka adalah seburuk-buruk makhluk Allah dan bahwa mereka mengambil ayat-ayat Allah yang berlaku terhadap orang kafir lalu mereka timpakan kepada orang-orang beriman. Dari sini orang-orang tasawuf menjadi terbiasa menuduh orang yang bertentangan dengan mereka sebagai khawarij. Apakah mungkin menjelaskan sedikit masalah ini dan latar belakang hadits tersebut?

Hakikat Murji’ah Menurut Ahlus Sunnah, Hizbiyyun Dan Harakiyyun


HAKIKAT MURJI`AH MENURUT AHLUS-SUNNAH , HIZBIYYUN, DAN HARAKIYYUN

Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

PENGERTIAN IRJA’ DAN MURJI`AH
Al-Irja` menurut bahasa memiliki beberapa arti, yaitu: harapan, takut, mengakhirkan, dan memberikan harapan.

Al-Irja` dengan makna harapan, seperti pada firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

Dan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. (an-Nisaa`/4:104), maknanya, adalah kalian memiliki harapan kepada Allah yang tidak dimiliki oleh mereka.

Al-Irja` dengan makna takut, seperti pada firman-Nya:

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? (Nuh/71:13), maknanya, adalah mengapa kalian tidak takut terhadap adzab Allah.

Sedangkan al-Irja` dengan makna mengakhirkan, seperti pada firman-Nya:

قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ

Beri tangguhlah ia dan saudaranya… (al-A’raaf/7: 111).

Bantahan Terhadap Pemikiran Murji’ah


BANTAHAN TERHADAP PEMIKIRAN MURJI’AH

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Sesungguhnya kebaikan manusia, baik di dunia maupun di akhirat, itu semua tergantung pada keimanannya yang benar. Dengan iman yang benar, seorang hamba akan hidup bahagia, dan ia selamat dari berbagai keburukan dan kesusahan di dunia dan di akhirat. Dengan iman, seorang hamba meraih pahala dan masuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Di dalamnya terdapat berbagai kesenangan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas pada hati manusia. Demikian juga, dengan iman seorang hamba akan selamat dari neraka, dengan berbagai siksanya yang tiada tara. Maka menjadi keharusan, jika pengetahuan tentang iman yang benar merupakan ilmu yang sangat penting dan pantas untuk diperhatikan.

MAKNA IMAN MENURUT AHLUS-SUNNAH
Secara bahasa, iman ada yang mengartikan dengan tashdîq (membenarkan), tuma`nînah (ketentraman), dan iqrar (pengakuan). Dan makna poin ketiga inilah yang paling tepat.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Telah diketahui bahwasanya iman adalah iqrar (pengakuan), tidak semata-mata tashdîq (membenarkan). Dan iqrar (pengakuan) memuat perkataan hati, yakni tashdîq (membenarkan), dan perbuatan hati, yakni inqiyad (ketundukan hati)”.[1]

Sabtu, 17 September 2022

3 Wasiat Nabi


Kita mungkin pernah mendengar istilah ulama menyebut “Jawami’ul Kalim”. Istilah itu memiliki makna: bahasa yang singkat, namun punya makna yang sangat mendalam. Hal inilah yang sering kita jumpai dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya dalam hadits berikut,

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ” [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih).

Pengaruh Buruk Pemikiran Murji’ah


PENGARUH BURUK PEMIKIRAN MURJI’AH

Oleh Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Perpecahan kaum Muslimin menjadi kelompok-kelompok yang mengusung beragam pemikiran, sungguh merupakan kenyataan yang tidak bisa dimungkiri. Perpecahan ini, tidak lain, karena kaum Muslimin jauh dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jauh dari pemahaman para sahabatnya dalam beragama. Mengenai perpecahan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mensinyalir dalam sebuah hadits:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Sesungguhnya, barangsiapa di antara kalian yang hidup, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang baru, karena ia adalah kesesatan. Barang Usiapa di antara kalian yang mendapatinya, maka wajib berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafa-ur rasyidin al-mahdiyin; gigitlah ia dengan gigi gerahammu. [HR at-Tirmidzi].

Perjalanan sejarah telah membuktikan kebenaran wasiat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Awal perselisihan atau perpecahan ini muncul pada akhir kekhilafahan Khulafa-ur-Rasyidin. Di dalam Majmu’ al-Fatâwa (10/354), Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan, bahwa kebanyakan perbuatan bid’ah yang berhubungan dengan i’tikad dan ibadah, hanya terjadi pada akhir masa kekhilafahan Khulafa-ur-Rasyidin.[1]

Bahaya Fanatisme Golongan


BAHAYA FANATISME GOLONGAN[1]

Oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali

Sesungguhnya cobaan yang menimpa umat Islam tidak hanya terbatas pada satu sisi tertentu saja. Bahkan meluas sampai pendidikan dengan mengerahkan segenap unsur dan sarananya untuk merubah aqidah, nilai-nilai, dan akhlak Islam. Sehingga orang yang menjadi sasaran rencana-rencana setan itu berada di dalam puncak kegembiraan, dia menyangka berada di atas kemajuan yang hebat. Oleh karena itu, sesungguhnya para ahli maksiat di kalangan kaum muslimin dewasa ini menjadi korban pendidikan yang salah, yang menjadikan mereka hanya memikirkan dunia. Pendidikan tersebut semenjak awal menghendaki kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan bagi kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ  

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. [al-Baqarah/2:109].

Allah juga berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. [Ali ‘Imran/3:100].

Membongkar Kesesatan Dan Penyimpangan Gerakan Dakwah Ikhwanul Muslimin


MEMBONGKAR KESESATAN DAN PENYIMPANGAN GERAKAN DAKWAH IKHWANUL MUSLIMIN

Oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary Al-Medany

SEJARAH IKHWANUL MUSLIMIN
Ikhwanul Muslimin adalah pergerakan Islam – yang didirikan oleh Hasan Al-Banna (1906-1949 M) di Mesir pada tahun 1941 M. Diantara tokoh-tokoh pergerakan itu ialah : Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba`i, dan lain sebagainya.

Sejak awal mula didirikan pergerakan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani, seorang penganut Syi`ah Babiyah, yang berkeyakinan wihdatul wujud. Dan keyakinan bahwa kenabian dan kerasulan diperoleh lewat usaha, sebagaimana halnya menulis dan mengarang. Dia (Jamaludin Al-Afghani) kerap mengajak kepada pendekatan Sunni-Syiah [1] bahkan juga mengajak kepada persatuan antar agama [2]

Gerakan itu lalu bergabung ke banyak negara seperti: Syiria, Yordania, Iraq, Libanon, Yaman, Sudan dan lain sebagainya [3]. Ia (Jamaludin Al-Afghani) telah dihukumi /dinyatakan oleh para ulama negeri Turki, dan sebagian masyayikh Mesir sebagai orang Mulhid, kafir, zindiq, dan keluar dari Islam.