BAHASAN : SIRAH NABI
MENGURANGI MASA KESEDIHAN
Belum lama terlepas dari embargo kaum kafir Quraisy, ternyata beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus menanggung kesedihan, dikarenakan paman beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abu Thâlib yang selalu membantu melindunginya meninggal dunia. Belum lama berselang, istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tercinta, yaitu Khadîjah binti Khuwailid yang selalu menjadi penopang dakwah ini juga menyusulnya. Peristiwa ditinggalkan orang-orang terdekat ini yang secara beruntun ini sangat membekas pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga sebagian ahli sejarah, menyebut tahun tersebut sebagai tahun kesedihan. Namun penamaan ini tidak dipakai oleh sebagian ahli sejarah lainnya. Karena, kesedihan yang dirasakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan disebabkan ditinggal dua orang yang sangat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai ini. Akan tetapi, karena beliau merasakan kaumnya semakin berani menolak dakwah. Mereka semakin gencar menghalangi dan berusaha mematikan dakwah al-haq ini.
SAAT DITINGGALKAN ABU THALIB DAN KHADIJAH RADHIYALLAHU ANHA
Abu Thâlib meninggal pada tahun kesepuluh kenabian. Yaitu tidak lama setelah mereka keluar dari lembah tempat mereka tinggal saat pemboikotan kaum Quraisy. Ada juga riwayat yang menjelaskan bahwa Abu Thâlib meninggal pada bulan Ramadhân. Yaitu tiga hari sebelum Khadîjah Radhiyallahu anha wafat. Lihat Sirah adz-Dzahabi, halaman 237.
Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Abu Thâlib meninggal dalam keadaan kafir, meskipun selama hidupnya melindungi dan membela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Musayyib Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Abu Thâlib saat ia sedang sakaratul maut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah sedang berada di sisi Abu Thalib.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya:
يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Wahai, pamanku! Ucapkanlah Lâ ilâha illallâh, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk mempersaksikan engkau di hadapan Allah Azza wa Jalla ”.
Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Abu Thâlib meninggal dalam keadaan kafir, meskipun selama hidupnya melindungi dan membela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Musayyib Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Abu Thâlib saat ia sedang sakaratul maut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah sedang berada di sisi Abu Thalib.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya:
يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Wahai, pamanku! Ucapkanlah Lâ ilâha illallâh, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk mempersaksikan engkau di hadapan Allah Azza wa Jalla ”.
Maka Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berseru: “Wahai, Abu Thalib! Apakah Anda benci dengan millah ‘Abdul-Muththalib?”
Dalam kondisi kritis itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap terus mengatakan hal demikian kepada Abu Thâlib, dan begitu pula dengan kedua tokoh kafir Quraisy ini. Mereka berdua juga terus mengulangi perkataannya, hingga akhirnya, perkataan terakhir yang diucapkan Abu Thâlib kepada mereka, bahwa Abu Thâlib tetap berada di atas millah ‘Abdul-Mutthalib, dan dia enggan mengucapkan kalimat Lâ ilâha illallâh.
Melihat kenyataan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata:
أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ
Demi Allah, sungguh, aku akan memohonkan ampunan untuk engkau, selama aku tidak dilarang.
Berkenaan dengan tekad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat :
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) buat orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam. [at-Taubah/9 : 113]
Dan juga firman Allah Azza wa Jalla :
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [al-Qashash/28 : 56].
Imam Muslim juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya:
قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ucapkanlah Laailaaha Illallah, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk mempersaksikan engkau pada hari Kiamat”.
Abu Thalib menjawab: “Seandainya kaum Quraisy tidak akan mencelaku dengan mengatakan ‘Dia mengucapkan kalimat itu hanya karena takut,’ maka tentu aku ikuti permintaanmu,” lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya (Qs al-Qashash/28 ayat 56):
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk
Demikianlah kesudahan akhir kehidupan Abu Thâlib. Dia meninggal dalam keadaan kafir. Adapun riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa ia mengucapkan kalimat syahadat pada akhir hayatnya, maka riwayat-riwayat tersebut tidak ada yang shahîh. Jadi, Abu Thâlib meninggal tidak dalam keadaan Islam. Tentu dalam masalah ini terdapat banyak hikmah yang hanya diketahui Allah Azza wa Jalla, dan Allah Azza wa Jalla Maha Adil. Sedikit pun Dia tidak akan berbuat zhalim kepada hamba-Nya. Dan sepeninggal Abu Thâlib, maka kaum kafir Quraisy semakin leluasa mengejek dan menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada lagi yang mereka segani dan bisa menghalangi dari hal itu, sebagaimana Abu Thâlib.
Adapun tentang wafatnya Khadîjah Radhiyallahu anha terdapat beberapa riwayat yang berbeda. Ada yang mengatakan beliau Radhiyallahu anha wafat dua bulan setelah Abu Thâlib. Ada yang berpendapat, satu bulan lima hari, dan lain sebagainya. Sedangkan yang masyhur, beliau Radhiyallahu anha wafat pada bulan Ramadhân tahun kesepuluh dari kenabian. Yaitu tiga tahun sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah.
Jarak antara wafatnya Abu Thâlib dan Khadîjah Radhiyallahu anha sangat pendek, yaitu kurang dari satu tahun. Ini berarti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa musibah secara beruntun.
Semasa hidupnya, Khadîjah binti Khuwailid, sebagai istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah orang yang pertama kali menyatakan keislamannya dan menjadi pendamping setia beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia banyak membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suka dan duka. Banyak riwayat yang menjelaskan keistimewaan dan kedudukan Khadîjah binti Khuwailid di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Abu Thâlib, ia selalu melindungi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan segenap kemampuannya.
RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM MENIKAHI SAUDAH RADHIYALLAHU ANHA
Meskipun Rasulullan Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kondisi susah dan menderita, akan tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memiliki semangat membantu para sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berusaha meringankan beban derita yang sedang menimpa para sahabatnya. Contoh dalam masalah ini, misalnya, pernikahan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Saudah binti Zam’ah Radhiyallahu anha.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Saudah binti Zam’ah Radhiyallahu anha. Wanita yang dinikahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini termasuk wanita yang berhijrah di jalan Allah Azza wa Jalla. Saudah Radhiyallahu anha pernah hijrah ke Habasyah bersama sang suami yang bernama Sakrân bin Amr. Hijrahnya Radhiyallahu anha menyebabkan keluarga Saudah Radhiyallahu anha marah besar kepadanya. Ketika Saudah Radhiyallahu anha kembali dari hijrah bersama sang suami, sang suami meninggal. Ada yang menyatakan bahwa suaminya meninggal di Habasyah. Sehingga tinggallah Saudah Radhiyallahu anha seorang diri, tidak memiliki keluarga.
Melihat hal ini, Rasulullah khawatir jika Saudah akan disakiti oleh kaumnya. Mengingat kaum Saudah Radhiyallahu anha termasuk di antara kabilah yang paling keras memusuhi Islam. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan untuk menikahinya. Dan pernikahan ini terjadi setelah Khadîjah binti Khuwailid wafat. Menurut pendapat yang kuat, pernikahan berlangsung pada bulan Syawwâl tahun kesepuluh dari kenabian.
Saat Saudah Radhiyallahu anha memasuki usia senja, beliau Radhiyallahu anha khawatir akan diceraikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau Radhiyallahu anha masih ingin menjadi istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau Radhiyallahu anha memberikan malam-malam gilirannya kepada istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih muda, yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Ada yang meriwayatkan bahwa firman Allah Azza wa Jalla surat an-Nisa`/4 ayat 128 turun disebabkan dengan sikap Saudah Radhiyallahu anha ini. Ayat tersebut ialah :
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.
Demikianlah Saudah bin Zam’ah Radhiyallahu anha yang dinikahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wujud kepedulian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat, dan juga sebagai perhargaan terhadap suami Saudah. Jadi, meskipun dalam kondisi sulit dan susah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memberikan perhatian kepada para sahabat.
Diringkas dari as-Sîratun Nabawiyatu fi Dhau-il Mashâdiril ash Liyyah, karya Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Penerbit XXX, Cetakan XXX, Tahun XXX, halaman 222-225 dan 697-698.
[Http://cerkiis.blogspot.com, Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016, artikel: almanhaj]
--------
PERSUSUAN NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DAN PERISTIWA PEMBELAHAN DADA
Setelah Aminah melahirkan bayinya dan diberi nama Muhammad oleh kakeknya di depan Ka’bah, kemudian ia menyusuinya selama beberapa hari. Ibunyalah yang menyusui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali. Mengenai lama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusu pada ibunya, ada yang mengatakan tiga, tujuh dan ada yang mengatakan sembilan hari.
TSUWAIBAH
Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui oleh budak Abu Lahab yang sudah dibebaskan. Dia bernama Tsuwaibah. Wanita ini juga menyusui pamannya, yaitu Hamzah dan menyusui anak bibi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Abu Salamah al Mahzumi, sehingga mereka menjadi saudara sepersusuan. Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits, dari Zainab binti Abu Salamah :
أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ ( ولمسلم : عِزَّةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ) قَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ قُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي فَقُلْتُ إِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ (وفي رواية : دُرَّةَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ) فَقَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ فَقُلْتُ نَعَمْ
قَالَ لَوْ لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا بِنْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ
“Sesungguhnya Ummu Habibah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nikahilah saudariku putri Abu Sufyan (dalam riwayat Imam Muslim: ‘Izzah binti Abu Sufyan)”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ”Apakah engkau menginginkan itu?” Aku (Ummu Habibah) menjawab, ”Ya. Aku tidak pernah menjadi istrimu seorang diri, dan orang yang paling aku sukai menemaniku dalam kebaikan adalah saudariku.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Itu tidak halal bagiku.” Ummu Habibah berkata, ”Sesungguhnya kami diberitahu, bahwa engkau ingin menikahi anak Abu Salamah (dalam riwayat lain : Durrah binti Abu Salamah).” Rasulullah bertanya, ”Putri Abu Salamah?” Aku (Ummu Habibah) menjawab, ”Ya.”
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dia bukan anak asuhku, dia tetap tidak halal bagiku. Dia itu putri dari saudara sepersusuanku. Aku dan Abu Salamah pernah disusui oleh Tsuwaibah, maka jangankanlah kalian menawarkan anak-anak atau saudari-saudari kalian kepadaku”. [HR Imam Bukhari dan Muslim].[1]
Kemudian Imam Bukhari membawakan perkataan ‘Urwah, bahwa Tsuwaibah adalah budak milik Abu Lahab yang telah dibebaskan dan menyusui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tsuwaibah menyusui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama beberapa hari, hingga kemudian datang Halimah as Sa’diyah, seorang wanita yang menyusui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikutnya.
HALIMAH AS-SA’DIYAH.
Diantara kebiasaan para pemuka bangsa Arab yaitu mencarikan ibu susuan dari pedesaan bagi anak-anak mereka. Tujuannya agar badan anak-anak mereka lebih sehat dan kuat. Karena memandang pengasuh atau ibu susuan yang berada di daerah perkotaan memiliki fisik yang lemah. Disamping itu, agar anak-anak mereka memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Oleh karenanya mereka mengirimkan bayi-bayi mereka ke pedesaan sampai usia delapan, kadang sepuluh tahun.Sebaliknya, orang-orang pedesaan itu sengaja pergi ke kota mencari bayi para pemuka Arab untuk disusui, dengan harapan agar namanya ikut terangkat.
Halimah binti Abu Dzuaib adalah wanita berikutnya yang ditakdirkan Allah Azza wa Jalla untuk menyusui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berasal dari kabilah Sa’diyah. Salah satu kabilah yang terkenal dengan wanita-wanita tukang menyusui, serta terkenal memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Oleh karenanya, ketika Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu mengomentari bahasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang fasih, ia berkata :
مَارَأَيْتُ مَنْ هُوَ أَفْصَحُ مِنْكَ يَارَسُوْلَ الله
“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih fasih bahasanya dibandingkan engkau, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
مَا يَمْنَعُنْي وَأَنَا مِنْ قُرَيْشٍ وَأُرْضِعْتُ فِي بَنِي سَعْدٍ
“Kenapa tidak? Aku dari suku Quraisy, dan aku disusui di Bani Sa’d”. [2]
Selama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui oleh Halimah binti Abu Dzuaib as Sa’diyah, banyak kisah-kisah keajaiban yang masyhur dibawakan oleh para ahli sejarah. Namun, kisah tentang Halimah yang panjang, mulai dari proses pencarian bayi susuan sampai barakah-barakah yang muncul di kemudian hari, menurut para ulama ahli hadits, kisah-kisah tersebut dinilai tidak shahih karena sebab sanadnya.[3]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal bersama mereka selama empat tahun, sampai terjadi sebuah peristiwa yang membuat ibu asuhnya Halimah as Sa’diyah merasa cemas dan menghawatirkan anak asuhnya. Peristiwa pembelahan dada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan oleh Malaikat membuat ibu asuhnya cemas, sehingga ia segera mengembalikan kepengasuhan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ibunda Aminah.
PERISTIWA PEMBELAHAN DADA.
Peristiwa pembelahan dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, penyuciannya terjadi sebanyak dua kali, tetapi ada juga yang mengatakan tiga kali. Namun peristiwa pembelahan dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang kedua), yaitu menjelang penobatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terjadi dalam mimpi, sebagaimana dua riwayat yang dibawakan oleh Imam Suyuthi rahimahullah.[4]
Peristiwa pertama terjadi ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia empat atau lebih, yaitu ketika beliau sedang menggembala di lembah Bani Sa’d. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu diceritakan :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi Malaikat Jibril Alaihissallam ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bermain dengan beberapa anak [5]. Jibril kemudian menangkapnya, menelentangkannya, lalu Jibril membelah dada. Jibril mengeluarkan hatinya, dan mengeluarkan dari hati beliau segumpal darah beku sambil mengatakan “Ini adalah bagian setan darimu”. Jibril kemudian mencucinya dalam wadah yang terbuat dari emas dengan air zam-zam, lalu ditumpuk, kemudian dikembalikan ke tempatnya. Sementara teman-temannya menjumpai ibunya (maksudnya orang yang menyusuinya) dengan berlari-lari sembari mengatakan: “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh”. Kemudian mereka bersama-bersama menjumpainya, sedangkan dia dalam keadaan berubah rona kulitnya (pucat).
Anas mengatakan: “Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan di dadanya”.
Setelah membawakan hadits ini, penyusun kitab As Siratun Nabawiyatush Shahihah mengatakan: “Tidak diragukan lagi, bahwa pembersihan hati dari bagian setan merupakan persiapan dini untuk kenabian, dan persiapan untuk bebas dari segala kejahatan dan peribadatan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Maka tidak ada yang bersemayam di hatinya, kecuali tauhid. Peristiwa-peristiwa masa kecilnya menunjukkan, bahwa semua itu telah terbukti. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dosa, serta tidak pernah sujud kepada berhala, meskipun hal itu sudah merata di tengah kaum beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam”
Demikianlah, peristiwa pembelahan dada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama, terjadi di Bani Sa’d ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia empat tahun atau lebih. Kemudian peristwa ini terulang lagi pada malam Isra’ dan Mi’raj.
Peristiwa pembelahan dada ini, membuat Halimah merasa sangat khawatir atas keselamatan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, Halimah segera menyerahkan kembali Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke pangkuan ibunda Aminah dan kakeknya Abdul Muththalib, meskipun sebenarnya Halimah sangat menyukainya.
[Http://cerkiis.blogspot.com, Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016, artikel: almanhaj]
Footnote
[1]. Lihat Shahihus Siratin Nabawiyah, karya Syaikh Al Albani, hlm. 15.
[2]. Lihat As Siratun Nabawiyatu fi Dhauil Kitab was Sunnati, karya Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, hlm. 192.
[3]. Lihat As Siratun Nabawiyatush Shahihah, karya Dr. Akram Dhiya’ Al Umari (I/103).
[4]. Ibid.
[5]. Dalam riwayat Ibnu Ishaq, Rasulullah n menceritakan: “Ketika aku dan saudaraku menggembala ternak di belakang rumah, tiba-tiba aku didatangi oleh dua orang …”. (Lihat Shahihus Siratin Nabawiyah, hlm. 16).