Rabu, 27 Januari 2016

Jiwa Besar


Ibnu Hazm -rahimahullah- mengatakan :

"Tak ada yang lebih berat bagiku dari sebuah pengkhianatan. Namun sungguh aku tak pernah membiarkan diriku berfikir untuk mencelakai seseorang yang pernah bersalah padaku, sebesar apapun kesalahan dan dosanya tersebut." [Rasaail Ibnu Hazm: 1/210]

Aneh dan Lucu (Bag. 5)


41.   Menghafal Sambil Menulis dan Mengantuk.

Ketika Imam ad-Daruquthni masih remaja, dia pernah hadir di majelis Isma’il ash-Shaffar yang tengah meng-imla‘ (mendiktekan) hadits kepada murid-muridnya, namun ad-Daruquthni malah menyalin kitab hadits lainnya.

Maka dia ditegur oleh sebagian hadirin, “Kamu tidak bisa mendengar imla‘ Syaikh secara bagus jika kamu mendengarnya sambil menyalin buku lainnya.”

Ad-Daruquthni menjawab, “Pemahamanku berbeda dengan pemahamanmu.”

Aneh dan Lucu (Bag. 4)


31.   Muadzin yang Malang Karena Wanita.

Hati manusia mudah berbolak-balik, apalagi pada zaman kita sekarang yang penuh dengan fitnah. Dikisahkan, ada seorang muadzin yang sangat rajin adzan dan shalat. Dia sangat taat beribadah dan sering di masjid.

Suatu hari, dia melihat ke rumah seorang Nasrani yang berada di bawah menara masjid, ternyata dia melihat putri penghuni rumah dan langsung jatuh cinta padanya. Dia pun meninggalkan adzannya dan turun menuju rumahnya.

Wanita tersebut mengatakan, “Apa yang Anda inginkan?”

Muadzin menjawab, “Saya menginginkan dirimu.”

Wanita itu bertanya, “Kenapa begitu?”

Dia menjawab, “Aku telah jatuh cinta padamu.”

Wanita itu berkata, “Saya tidak mau berbuat dosa.”

Muadzin berkata, “Aku akan menikahimu.”

Wanita itu menjawab, “Kamu seorang muslim dan saya seorang Nasrani, ayahku jelas tidak akan merestui.”

Muadzin berkata, “Saya akan beragama Nasrani.”

Aneh dan Lucu (Bag. 3)


21.   Menang Setelah Musuh Menghina Nabi.

Syaikhul Islam Rahimahullahuta’ala bercerita, “Banyak kawan saya yang tepercaya dari kalangan ahli fiqih bercerita tentang pengalaman mereka beberapa kali ketika mengepung para musuh di benteng pinggiran kota Syam pada zaman ini.

Katanya,
‘Kami sering mengepung musuh sebulan atau lebih namun belum juga berhasil mengalahkan mereka sehingga kami hampir saja putus asa, sampai ada di antara mereka yang mencela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menodai kehormatan beliau maka kemenangan segera datang menghampiri kami sehari atau dua hari setelahnya.’

Aneh dan Lucu (Bag. 2)


11.   Kisah di Balik Sebuah Gelar.

Pernahkah Anda mendengar seorang ulama yang bernama Hatim al-Asham? Tahukah Anda apa makna gelar (al-Asham) tersebut dan kenapa sang alim mendapat gelar tersebut?

Al-Asham adalah gelar yang artinya tuli.
Konon ceritanya, ada seorang wanita bertanya kepadanya tentang suatu permasalahan, namun dengan tidak sengaja dia (wanita itu) kentut yang bersuara sehingga dia merasa malu. Untuk menjaga perasaannya, Hatim berpura-pura tidak mendengar seraya berkata, “Keraskanlah suaramu.” Wanita itu pun merasa senang karena dia menduga Hatim tidak mendengar suara kentutnya. Setelah itu, Hatim terus menjadi tuli.” [1]

Selasa, 26 Januari 2016

Aneh dan Lucu (Bag. 1)


Dalam kehidupan ini, banyak sekali kisah-kisah dan peristiwa-peristiwa bersejarah, aneh, dan lucu. Hamparan peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah adalah samudera pelajaran bagi umat manusia.

Tulisan ini adalah kumpulan kisah-kisah dan peristiwa-peristiwa yang ajaib, aneh, dan langka agar kita memikirkannya dan mengambil pelajaran darinya. Dan bila itu adalah kisah-kisah lucu maka tujuannya adalah untuk menghibur jiwa dan menyenangkannya. Semoga Allah membimbing kami kepada tujuan yang baik.

Surat Ini Untukmu


Surat Ini Untukmu
 
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakattuh,
Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Fatwa Al-Faakihaaniy rahimahullah Mengenai Perayaan Maulid Nabi


Fatwa Al-Faakihaaniy rahimahullah Mengenai Perayaan Maulid Nabi
 
Al-Faakihaaniy, namanya adalah : ‘Umar bin ‘Aliy bin Saalim bin Shadaqah Al-Lakhmiy Al-Iskandariy – masyhur dengan nama : Taajuddiin Al-Faakihaaniy rahimahullah. Lahir tahun 654 H atau ada yang mengatakan 656 H.

Ibnu Katsiir rahimahullah menyifatinya dengan perkataan : asy-syaikh, ai-imaam, lagi menguasai cabang-cabang ilmu pengetahuan [Al-Bidaayah wan-Nihaayah, 14/168].

Ibnu Farhuun Al-Maalikiy rahimahullah menyifatinya dengan perkataan : “Seorang yang faqih, mempunyai keutamaan, menguasai cabang-cabang ilmu hadits, fiqh, ushuul, bahasa ‘Arab, dan adab [Ad-Diibaaj Al-Madzhab fii Ma’rifati A’yaanil ‘Ulamaa’ Al-Madzhab, 1/108].

Minggu, 24 Januari 2016

Penumpangnya Setan


Penumpangnya setan

Dari Uqbah bin Amir radliyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

ما من راكب يخلو في مسيره بالله وذكره إلا ردفه ملك، ولا يخلو بشعر ونحوه إلا كان ردفه شيطان

"Pengendara yang dalam perjalanannya karena Allah dan disertai dzikir maka yang menjadi penumpangnya adalah malaikat.

Sedangkan pengendara yang perjalanannya disertai nyanyian atau sejenisnya, maka yang menjadi penumpangnya adalah syetan."

[HR Thabrani dalam al mu'jamul kabiir no 895. dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam shahih jami no 5706.]
  
♻  Ustadz Badru Salam
🌐  Cerkiis.blogspot.com

Membangun Kubur adalah Larangan Nabi Bukan Larangan Wahabi


Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu berkata :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kubur untuk dikapur, diduduki, dan dibangun sesuatu di atasnya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 970, Abu Daawud no. 3225, At-Tirmidziy no. 1052, An-Nasaa’iy no. 2027-2028 dan dalam Al-Kubraa 2/463 no. 2166, ‘Abdurrazzaaq 3/504 no. 6488, Ahmad 3/295, ‘Abd bin Humaid 2/161 no. 1073, Ibnu Maajah no. 1562, Ibnu Hibbaan no. 3163-3165, Al-Haakim 1/370, Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj ‘alaa Shahiih Muslim no. 2173-2174, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/410 & 4/4, Ath-Thayaalisiy 3/341 no. 1905, Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin 3/191 no. 2057 dan dalam Al-Ausath 6/121 no. 5983 & 8/207 8413, Abu Bakr Asy-Syaafi’iy dalam Al-Fawaaaid no. 860, Abu Bakr Al-‘Anbariy dalam Hadiits-nya no. 68, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/515-516 no. 2945-2946, dan yang lainnya.